Silsilah Keluarga KH. Maksum Jauhari (Gus Maksum)
Pondok pesantren Lirboyo merupakan salah satu pondok
pesantren yang berdiri sebelum kemerdekaan NKRI, berdiri pada tahun 1910 M,
didirikan oleh KH. Abdul karim, Ulama yang menjadi murid kinasih dari KH. Kholil
Bangkalan Madura, KH. Abdul karim menikahi salah satu putri dari Kyai asal
Banjarmelati, salah satu desa di kawasan Kediri, yang terkenal dengan sebutan
Kyai Sholeh Banjarmelati, KH. Abdul Karim mempersunting salah satu putri beliau
yang bernama Nyai Domroh.
Dari pernikahan KH. Abdul Karim dan Nyai Domroh dikaruniai
8 anak, yaitu, Nyai Hannah yang dipersunting Kyai Abdullah Turus, Kyai Nawawi
yang wafat di Makkah, Nyai Salamah yang dinikahkan dengan KH. Mansur Anwar
Pacul gowang, Kyai Abdullah, Nyai Aisyah yang dipersunting KH. Jauhari Fadil,
Nyai Maryam yang dinikahkan dengan KH. Marzuqi dahlan, Nyai Zainab yang
dipersunting KH. Mahrus Aly, dan Nyai Qomariyah yang dinikahkan dengan KH.
Zaini Munawwir Krapyak.
Salah satu putri KH. Abdul Karim yaitu putri ke-5 yang bernama
Nyai Aisyah dinikahkan denagn Kiai Jauhari Fadil Batokan. Setelah menikah beliau tinggal
di Lirboyo dan membina rumah tangga di sana. Pada tahun pertama
pernikahannya, Kiai Jauhari langsung
diminta oleh Kiai Abdul Karim untuk membantu dan mengajar para santri yang
waktu itu berjumlah 500 orang.
Di
antara para menantu KH. Abdul Karim, Kiai Jauhari merupakan menantu pertama
yang membantu mertuanya mengajar dan memperjuangkan keberlangsungan pondok pesantren Lirboyo. Selama membantu
mertuanya itu, Kiai Jauhari sering mendengar bahwa enam
tahun sebelumnya pondok pesantren Lirboyo sudah menggunakan sistem klasikal
(sekolah), namun selama
dua tahun terakhir
kala itu sempat
mengalami ke-vakuman.
Sebagai
seorang yang peduli pada dunia pendidikan, kesempatan membantu mertuanya itu
dijadikan momentum untuk mengalirkan
ide pendirian kembali madrasah yang telah mati tersebut. Ide itu ternyata
mendapat respon positif dari Kiai Abdul
Karim, dengan bantuan para kiai yang
sudah banyak tahu tentang sistem pendidikan klasik, yaitu Kiai Kholil (salah satu Kiai di pondok pesantren
Tebuireng asal Melikan, Kediri) dan Kiai Faqih Asy’ari (pengasuh Pondok Pesantren Sumber Sari, Pare), Kiai
Jauhari merancang kembali sistem belajar mengajar yang sangat diidam-idamkan
itu.
Pada
tahun 1942 bersamaan dengan
penjajahan Jepang, Madrasah Hidayatul Mubtadiin (MHM) mengalami kemunduran hingga para santri
tersisa hanya 150, dan yang bisa menyelesaikannya hanya sedikit. Pada
masa ini MHM terdiri dari kelas Sifir (persiapan) dan Ibtidaiyah
(dasar).
Selain
membangun pendidikan, Pondok
pesantren Lirboyo juga merupakan sebagai penopang suksesnya proses kemerdekaan
NKRI, dikala Ketua Rais Akbar NU, yaitu
Hadrorussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad pada tahun
1945, Lirboyo meliburkan pesantren dan mengirimkan para santri untuk berjihad memenuhi panggilan Resolusi Jihad yang
dikumandangkan Hadrotussyaikh.
Tahun 1947 didirikanlah Madrasah Mualimin atas gagasan H. Zamroji, kepala
MHM sejak tahun 1942. Pada masa ini, sistem madrasah diganti
dari yang awalnya Sifir dan Ibtidaiyah menjadi Ibtidaiyah
dan Tsanawiyah.
Tidak berselang lama, kepemimpinan KH. Abdul Karim sebagai
pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren
Lirboyo berahir, tepatnya pada tahun 1954 M (21 Ramadhan 1374 H) beliau wafat
dan dimakamkan di barat Masjid Lirboyo,
Pondok Pesantren Lirboyo
kemudian diasuh oleh menantunya KH. Marzuqi Dahlan dan KH. Mahrus
Ali.
Pada masa keduanya, pesantren mengalami banyak cobaan,
karena berketepatan dengan peristiwa G30SPKI,
akan tetapi Lirboyo juga mengalami kemajuan dengan banyaknya santri yang
berdatangan. Bahkan, pada tahun 1966
lahirlah sebuah perguruan tinggi milik Lirboyo yang bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti).
Dari pasangan Kiai Jauhari dan Nyai Aisyah ini pula lahirlah seorang bayi laki-laki diberi nama Abdullah Maksum, yang tidak lain adalah pendiri salah satu perguruan silat yang sangat berpengaruh di Kediri yaitu GASMI.